Kamis, 19 Februari 2009

Bojo lan Jodoh

Lebaran tahun kemarin, keluarga kami mengunjungi seorang kenalan baik yang sangat kami hormati. Sepasang suami istri itu sudah agak tua, jadi seperti biasa mereka memberi petuah mengenai hidup pada kami tiga bersaudara (aku dan adik-adikku) yang menurut standar para orang-orang sepuh masih “bayi”, “hijau” dan belum banyak merasakan asam garam kehidupan.
Yang paling membuatku terkesan waktu si bapak berkata dalam bahasa Jawa, “ Ojo nggolek bojo, nanging jodoh (Jangan mencari suami/istri, tapi carilah jodoh atau belahan jiwa)”
Aku sebegitu terkesannya sampai-sampai benar-benar ku patri kalimat indah itu dalam hati. (Ah, sebagian karena kalimat yang diucapkan dalam bahasa Jawa itu begitu menggugah dan mengena. Sekali lagi aku diingatkan betapa bahasa Jawa itu meski complicated namun adiluhung (lagi-lagi aku mencomot kalimat si bapak)).
Allahualam, kalimat itulah yang dalam hitungan jam kemudian mengubah hidup dan pandanganku selamanya, mengajariku pengalaman dan cara pandang lebih baik dari pada 22 tahun umurku mengajariku. Dalam hitungan jam, takdir mempertemukanku dengan orang-orang yang memberiku pengalaman dan kenangan berharga yang tak ternilai harganya, yang meruntuhkan segala praduga dan opini yang sebelumnya aku anut kuat-kuat, yang pada akhirnya membuatku setuju dengan lirik lagu Daughtry “Home”, “Be careful what you wish for, cuz you just might get it all, then some you don't want.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar