Aku harap-harap cemas menantikan hari pembagian rapor. Senang karena jika ini sudah selesai, gak ada tanggungan lagi. Tapi cemas juga karena harus ngadepin orang tua murid.
Begitu rapor dibagikan, aku mendapat banyak kejutan. Aku sudah familiar dengan Sebagian orang tua murid, jadi ya biasa-biasa saja. Tapi sebagian dari mereka membuatku terkejut.
Ada seorang laki-laki yang aku taksir umurnya awal 30an. Pertamanya aku pikir dia mau mengambil rapor adiknya. Tapi setelah berbasa-basi (aku heran dan kagum pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku red red lips alias did small talk alias chit chat) sampai dia bilang dia bapaknya salah satu muridku. Di benakku, dia masih muda banget untuk jadi bapak dari anak 9an tahun (beberapa hari kemudian rekanku bilang kalau anaknya yang paling tua baru aja lulus sd. @jaw dropped mode on).
Seorang wanita mendekati atau sudah separuh baya maju. Aku pikir dia nenek muridku. Red red lips lagi aku tanya “anakku”, “Ibumu ya, Slamet?” tak ada prasangka sebelumnya kalau itu benar. Si ibu menjelaskan kalau anak-anaknya sebelum Slamet semuanya meninggal dalam kandungan. Baru setelah berumur, Yang Di Atas memberinya seorang anak laki-laki imut yang dinamai Slamet, secara harfiah maupun tidak.
Mendekati berakhirnya acara ini, aku mempermalukan diriku sendiri. Ketika memanggil nama terakhir di daftar absen, wanita muda yang umurnya tak jauh berbeda denganku menghampiri mejaku. “Kakaknya ya?” aku bertanya.
“Bukan Bu, saya ibunya.”
If shame could kill, definitely I'd be gone at that straight moment.
Kamis, 19 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar